RSS

PENGOBATAN KANKER PAYUDARA

       1.    Terapi Ajuvan & Neo-ajuvan 
Ketika orang-orang tampaknya tidak memiliki kanker yang tersisa setelah pembedahan namun masih diberikan pengobatan lebih disebut terapi ajuvan. Sedangkan diberikannya pengobatan sistemik seperti kemoterapi sebelum dilakukan operasi untuk mengecilkan kankernya disebut terapi neo-ajuvan.

2.    Quadrantectomy
    Merupakan operasi penghapusan lebih dari jaringan payudara yang biasanya diikuti dengan terapi radiasi. Efek samping dari operasi ini dapat berupa rasa sakit, pembengkakan dalam jangka pendek, tekstur payudara lembek dan keras karena jaringan parut yang terbentuk akibat pembedahan.

3.    Mastektomi Total
  Merupakan operasi penangkatan seluruh payudara, tetapi tidak termasuk kelenjar getah bening di bawah lengan atau jaringan otot di bawah payudara. Kadang-kadang kedua buah payudara diangkat, terutama bila dilakukan mastektomi untuk mencegah terjadinya kanker.

4.    Mastektomi radikal termodifikasi
   Merupakan operasi pengangkatan seluruh payudara serta beberapa kelenjar getah bening di bawah lengan.

     5.    Mastektomi radikal
  Merupakan operasi penghapusan seluruh payudara, kelenjar getah bening di bawah ketiak (aksila), dan otot dinding dada di bawah payudara. Operasi ini dapat dilakukan untuk kanker besar yang tumbuh ke dalam otot bawah payudara. 


6.    Biopsi Nodul Getah Bening Sentinel
  Merupakan sebuah biopsi untuk melihat kelenjar getah bening tanpa harus mengangkat semuanya. Untuk tes ini, suatu zat radioaktif atau pewarna disuntikkan di dekat sel kanker. Ini akan dibawa oleh sistem getah bening ke nodul (sentinel) pertama yang mendapatkan getah bening dari kanker. Nodul inilah yang paling mungkin berisi sel-sel kanker jika kanker telah menyebar. Nodul ini kemudian diperiksa oleh ahli patologi. Jika nodul sentinel mengandung kanker, maka kelenjar getah bening selanjutnya akan dihapus.

      7.    Radioterapi
    Merupakan pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk membunuh sel-sel kanker ataupun menyusutkan sel kankernya. Perawatan ini dapat digunakan untuk membunuh sel-sel kanker apapun yang berada di payudara, dinding dada, atau area ketiak setelah operasi konservasi payudara dilakukan. Namun, radioterapi dapat menyebabkan efek samping. Yaitu pembengkakan dan sumbatan di payudara, perubahan warna kulit seperti habis tersengat matahari di daerah paparan, dan perasaan sangat lelah. Perubahan jaringan payudara dan kulit biasanya menghilang dalam kurun waktu 6 sampai 12 bulan. Pada beberapa perempuan, payudara akan lebih kecil dan lebih kencang setelah terapi radiasi. Radiasi pada kelenjar getah bening juga dapat menyebabkan pembengkakan lengan dalam jangka panjang (lymphedema).


  8.    Brachytherapy
Merupakan metode penanaman biji radioaktif ke dalam jaringan payudara di samping kanker. Mungkin diberikan bersamaan dengan radiasi eksternal untuk menambah power radiasi yang ditujukan ke sel kanker. Salah satu metode brachytherapy yang digunakan disebut Mammosite®. Menggunakan sebuah balon yang melekat ke tabung tipis. Balon dimasukkan ke dalam ruang lumpektomi dan diisi dengan air garam. Radioaktivitas ditambahkan melalui selang. Bahan radioaktif ditambahkan dan diganti dua kali sehari selama 5 hari. Kemudian balon dikempiskan dan diangkat.

9.    Kemoterapi 
  Merupakan penggunaan obat pembunuh kanker yang dimasukkan melalui infus vena, suntikan, dalam bentuk pil atau cairan ke aliran darah dan mengalir ke seluruh tubuh. Meskipun membunuh sel-sel kanker, obat ini juga merusak beberapa sel normal.
Kemoterapi ada dua jenis, yaitu kemoterapi ajuvan dan kemoterapi nonajuvan. Kemoterapi ajuvan diberikan kepada pasien pasca operasi yang tampaknya tidak memiliki penyebaran kanker. Kemoterapi jenis ini ditujukan untuk mengurangi risiko timbulnya kembali kanker payudara. Kemoterapi neoadjuvan diberikan sebelum operasi disebut terapi neo-ajuvan. Tujuan kemoterapi jenis ini adalah untuk mengecilkan kanker yang berukuran besar sehingga menjadi cukup kecil untuk diangkat oleh lumpektomi, bukan mastektomi.
                             



KANKER PAYUDARA

Kanker payudara adalah keganasan yang bermula dari sel-sel di payudara. Hal ini terutama menyerang wanita, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi juga pada pria. Kanker payudara adalah suatu penyakit dimana sel-sel ganas terbentuk pada jaringan payudara. Untuk mengerti tentang kanker payudara, ada baiknya kita pelajari struktur anatomi payudara normal.
Payudara terdiri dari kelenjar yang membuat air susu ibu (lobulus), saluran kecil yang membawa susu dari lobulus ke puting (duktus), lemak dan jaringan ikatnya, pembuluh darah, dan kelenjar getah bening. Sebagian besar kanker payudara bermula pada sel-sel yang melapisi duktus (kanker duktal), beberapa bermula di lobulus (kanker lobular), dan sebagian kecil bermula di jaringan.
                          


Sistem getah bening adalah salah satu cara utama kanker payudara menyebar. Sel-sel kanker payudara dapat memasuki pembuluh limfe dan mulai tumbuh di kelenjar getah bening. Jika sel-sel kanker payudara telah mencapai pembuluh getah bening di ketiak (node axilaris), tandanya adalah pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak. Bila ini terjadi maka kemungkinan besar sel-sel kanker juga masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya.


Jenis-jenis Kanker Payudara

1.    Duktal Karsinoma in situ (DCIS)
Merupakan tipe kanker payudara non-invasif yang sel-sel kankernya berada di dalam duktus dan belum menyebar ke jaringan payudara disekitarnya. Ketika terdiagnosa DCIS, ahli patologi biasanya akan mencari area dari sel-sel kanker yang telah mati, disebut nekrosis dalam sampel jaringan. Bila nekrosis ditemukan, maka kanker agaknya lebih bersifat agresif. Istilah comedocarsinoma kadang digunakan untuk menjelaskan DCIS dengan nekrosis. 
   2.    Lobular karsinoma in situ (LCIS)
Merupakan tipe kanker payudara non-invasif yang bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu, tetapi tidak berkembang melewati dinding lobulus. LCIS sering tidak menjadi kanker invasive, tetapi wanita dengan kondisi ini memiliki resiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi kanker payudara invasive pada payudara yang sama atau berbeda.
   3.    Invasif Duktal Karsinoma (IDC)
Merpakan kanker yang bermula dari duktus, menerobos dinding duktus, dan berkembang ke dalam jaringan lemak payudara. IDC mungkin bermetastasis ke organ tubuh lainnya melalui sistem getah bening dan aliran darah.
   4.    Invasif Lobular Karsinoma (ILC)
Merupakan kanker yang dimulai dalam lobulus. Seperti IDC, ILC juga dapat bermetastasis ke bagian lain dari tubuh.


Penyebab Kanker Payudara

§  Tidak memiliki anak atau hamil di usia tua
§  Menggunakan Pil KB dalam jangka panjang
§  Menggunakan terapi hormon pasca menopause
§  Tidak menyusui anak
§  Minuman beralkohol
§  Obesitas atau kelebihan berat badan 
§  Kurangnya aktivitas fisik 
§  Pernah menjalani terapi radiasi di dada ketika berusia antara 10-30 tahun
§  Diketahui memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2
§ Memiliki riwayat keluarga kanker payudara, duktal karsinoma in situ (DCIS), lobular karsinoma in situ (LCIS), atipikal duktus hiperplasia (ADH), atau atipikal lobular hiperplasia (ALH)


Gejala Kanker Payudara

§  Bengkak pada seluruh atau sebagian payudara
§  Kulit payudara iritasi, kemerahan, bersisik atau menebal
§  Payudara terasa nyeri
§  Puting susu nyeri atau puting melesak ke dalam
§  Keluarnya cairan/darah dari puting (selain ASI)


Deteksi Dini Kanker Payudara

1.    Mamografi
Merupakan suatu pemeriksaan payudara dengan X-ray untuk wanita berusia 40 keatas (dilakukan setiap tahun). Pada proses ini, payudara pasien ditekan diantara 2 piring untuk meratakan dan menyebar jaringan.
                                    

2.    Uji Payudara Klinis (UPK)
Merupakan pemeriksaan payudara secara fisik untuk wanita berusia 20-30 tahun (3 tahun sekali). Dokter akan melihat payudara pasien untuk mengidentifikasi adanya abnormalitas dalam ukuran dan bentuk atau perubahan kulit dan puting payudara. Kemudian juga akan dilakukan pemeriksaan secara mendetail pada payudara pasien dengan menggunakan bantalan jari-jari. Perhatian khusus akan diberikan pada bentuk dan tekstur dari payudara, benjolan apapun, dan apakah benjolan tersebut melekat pada kulit atau jaringan yang lebih dalam. Daerah di bawah kedua lengan juga akan diperiksa. 

3.    Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Merupakan cara pemeriksaan untuk wanita berusia sekitar 20 tahun. Pemeriksaan ini dilakukan setiap 3 bulan sekali, dengan melihat perubahan pada payudara seperti adanya benjolan, iritasi kulit, nyeri pada puting susu atau puting melesek ke dalam, puting susu atau kulit payudara berwarna kemerahan atau bersisik dan adanya pengeluaran cairan atau darah (bukan ASI) dari payudara.

Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan SADARI :
§  Langkah 1 : 
Mulai dengan melihat payudara di cermin dengan posisi pundak tegap dan kedua tangan di pinggang. Jika kulit payudara kemerahan, ruam-ruam, mengkerut, terjadi lipatan, ada tonjolan dan puting berubah dari posisi biasanya, maka periksalah ke dokter.
     §  Langkah 2
Saat bercermin, cermati apakah ada cairan yang keluar dari kedua puting (baik itu cairan bening, berwarna kuning ataupun bercampur darah).
§  Langkah 3 
Rasakan payudara dengan cara berbaring. Gunakan pijatan pelan namun mantap (tapi bukan keras) dengan tiga ujung anda (telunjuk, tengah, dan manis). Jaga posisi ujung jari datar terhadap permukaan payudara. Gunakan gerakan memutar, Pijat seluruh payudara dari atas sampai bawah, kiri kanan, dari tulang pundak sampai bagian atas perut dan dari ketiak sampai belahan payudara. Atau dapat juga dengan membuat gerakan naik turun. Gunakan pijatan ringan untuk kulit dan jaringan tepat dibawah kulit, pijatan sedang untuk bagian tengah payudara, dan pijatan kuat untuk jaringan bagian dalam.


4.    Tes Imaging Kanker Payudara
Ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, USG Payudara yaitu dengan penggunaan gelombang suara. Gema gelombang suara diambil oleh komputer untuk membuat gambar organ tubuh di layar komputer. USG adalah tes yang baik digunakan bersamaan dengan mammografi. USG membantu membedakan antara kista dan massa padat pada payudara. Kedua, Ductogram atau galactogram yaitu dengan menggunakan jenis X-ray khusus yang kadang-kadang digunakan untuk menemukan penyebab keluarnya cairan dari puting. Sebuah tabung plastik sangat tipis ditempatkan ke pembukaan duktus di puting. Bahan pewarna kemudian disuntikkan untuk melihat tampilan duktus pada gambar X-ray. Ini membantu mendeteksi adanya kanker dalam saluran.

5.    Biopsi 
Biopsi ada beberapa jenis. Pertama, biopsi aspirasi jarum halus (fine needle aspiration biopsy) dengan mengeluarkan cairan atau jaringan dari benjolan lewat jarum halus. Kedua, biopsi jarum inti (Core Needle Biopsy): penggunaan jarum yang lebih besar untuk mengangkat satu atau lebih jaringan inti. Ketiga, stereotactic biopsy yang dilakukan dengan pengangkatan jaringan yang lebih banyak. Keempat, bedah biopsi (open biopsy) yang mengangkat semua atau sebagian benjolan. Seluruh massa serta beberapa jaringan normal di sekitarnya dapat diambil keluar. Jaringan yang telah diangkat melalui biopsi akan diperiksa di laboratorium oleh ahli patologi untuk melihat apakah itu jinak (bukan kanker) atau kanker. Jika tidak kanker, maka tidak ada perlakuan yang lebih diperlukan. Jika kanker, biopsi dapat membantu untuk memberitahu jenis kanker dan menunjukkan apakah kankernya invasif atau tidak.

  
6.    Uji Status Hormon Reseptor
Reseptor adalah protein pada permukaan luar sel yang dapat melekat pada hormon dalam darah. Estrogen dan progesteron adalah hormon yang sering melekat ke reseptor beberapa sel kanker payudara sebagai bahan bakar bagi pertumbuhannya. Sampel biopsi dapat diuji untuk melihat apakah sel-sel kanker memiliki reseptor untuk estrogen dan progesteron. Jika tidak, sering disebut sebagai ER-positif. Ini berarti kanker tersebut cenderung memiliki hasil lebih baik dan jauh lebih mungkin berespons terhadap terapi hormon.

7.    Status HER2/neu
Kanker payudara memiliki banyak protein yang disebut HER2/neu. Kanker dengan adanya peningkatan HER-2/neu disebut "HER2-positif." Kanker ini tumbuh dan menyebar lebih cepat daripada kanker payudara lainnya. Pengujian HER2/neu harus dilakukan pada semua wanita yang baru terdiagnosa kanker payudara. Kanker dengan HER2-positif dapat diobati dengan obat-obatan target terapi, seperti trastuzumab (Herceptin ®) dan lapatinib (Tykerb ®).


Stadium Kanker Payudara

Berdasarkan penentuan stadium kanker dengan sistem TNM, sistem yang memperhitungkan ukuran kanker dan penyebaran (T), apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening (N), dan apakah telah bermetastasis (M), stadium kanker dibedakan menjadi stadium 0 sampai IV :
  • Stadium 0 (kanker payudara non invasif) : meliputi tipe DCIS (ductal carcinoma in situ) dan LCIS (lobular carcinoma in situ)
  • Stadium I : ukuran sel kanker < 2 cm dan tidak menyerang kelenjar limfe
  • Stadium II : ukuran sel kanker 2-5 cm dan sudah menyerang kelenjar limfe
  •  Stadium III : ukuran sel kanker > 5 cm dan benjolan sudah menonjol ke permukaan kulit, pecah ataupun bernanah
  • Stadium IV : Sel kanker sudah bermetastesis atau menyebar ke organ lain seperti paru-paru, liver, tulang ataupun otak

KANKER SERVIKS


Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim. Kanker serviks terbentuk sangat perlahan. Pertama, beberapa sel berubah dari normal menjadi sel-sel pra-kanker dan kemudian menjadi sel kanker. Ini dapat terjadi bertahun-tahun, tapi kadang-kadang terjadi lebih cepat. Perubahan ini sering disebut displasia. Untuk dapat memahami kanker serviks, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu anatomi rahim wanita. 
Leher rahim (serviks) adalah bagian bawah uterus (rahim). Rahim memiliki 2 bagian. Bagian atas, disebut tubuh rahim, adalah tempat di mana bayi tumbuh. Leher rahim, di bagian bawah, menghubungkan tubuh rahim ke vagina, atau disebut juga jalan lahir. 


Ada 2 jenis utama kanker serviks. yaitu karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Karsinoma sel skuamosa terbentuk dari sel-sel yang menutupi permukaan serviks. Sedangkan adenokarsinoma dimulai pada sel-sel kelenjar yang membuat lendir.


Penyebab Kanker Serviks
§  Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang ditularkan melalui kontak kulit
§  Merokok
§  Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus)
§  Infeksi Klamidia, bakteri yang menyerang organ wanita dan tersebar melalui hubungan seksual.
§  Diet rendah sayuran dan buah-buahan
§  Obesitas  
§  Riwayat Keluarga
§  Penggunaan pil KB dalam jangka panjang
§  Memiliki Kehamilan lebih dari 3 kali
§  Hamil pertama pada usia dibawah 17 tahun
§  DES (diethylstilbestrol), obat hormon yang pernah digunakan yang berada dalam bahaya keguguran. Anak-anak wanita dari para wanita yang menggunakan obat ini, ketika mereka hamil berada dalam resiko terkena kanker serviks sedikit lebih tinggi. 


Pencegahan Kanker Serviks

1.    Test Pap Smear
Test ini digunakan mengetahui apakah ada infeksi, radang, atau sel-sel abnormal dalam serviks. Test Pap smear dapat dilakukan bila tidak dalam keadaan haid ataupun hamil. Untuk hasil terbaik, sebaiknya tidak berhubungan intim minimal 3 hari sebelum pemeriksaan. Berikut adalah gambar ilustrasi dari prosedur tes pap smear.

                     
Gambar 1 : dokter memasukkan (alat) speculum ke dalam liang vagina untuk menahan dinding vagina tetap terbuka. 
Gambar 2 : Cairan/lendir rahim diambil dengan mengusapkan spatula. 
Gambar 3 : Usapan tersebut kemudian dioleskan pada objek glass.
Gambar 4 : Sampel siap dibawa ke laboratorium patologi untuk diperiksa.

    1.              Para wanita harus mulai melakukan tes Pap smear sekitar 3 tahun setelah mulai melakukan hubungan seks, tetapi tidak lebih tua dari usia 21 tahun. Pengujian harus dilakukan setiap tahun jika tes Pap smear biasa digunakan, atau setiap 2 tahun sekali jika Pap smear berbasis cairan.
    3.        Dimulai pada usia 30 tahun, para wanita yang mempunyai hasil tes normal sebanyak 3x berturut-turut mungkin dapat menjalani tes Pap smear setiap 2 sampai 3 tahun sekali. Atau dengan menjalani tes Pap smear setiap 3 tahun sekali plus tes HPV DNA. Wanita yang memiliki faktor resiko tertentu (seperti infeksi HIV atau punya imunitas lemah) harus mendapatkan tes Pap smear setiap tahun.
                                                                                     
2.    Metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
      IVA digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel serviks Anda setelah mengoleskan larutan asam asetat (asam cuka3-5%) pada leher rahim. Asam asetat menegaskan dan menandai lesi pra-kanker dengan perubahan warna agak keputihan (acetowhite change).
      Berbeda dengan tes Pap smear, pemeriksaan dengan metode IVA dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat menstruasi atau setelah keguguran. Bila hasilnya bagus, kunjungan ulang untuk tes IVA adalah setiap 5 tahun. 

3.    Cystoscopy
      Proses saat tabung tipis berlensa cahaya dimasukkan ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk mengetahui apakah kanker telah berkembang ke daerah ini. Sampel biopsy juga bisa diambil sekaligus. Cystoscopy memerlukan anestesi bius total.

4.    Proktoskopi
Proses saat tabung tipis terang digunakan untuk memeriksa penyebaran kanker serviks ke area anus.


Penentuan Stadium Kanker Serviks

      Ada 2 sistem yang digunakan pada umumnya untuk memetakan stadium kanker serviks, yaitu sistem FIGO (Federasi Internasional Ginekologi dan Obstetri) dan sistem TNM Kanker. Kedua pemetaan ini mengelompokkan kanker serviks berdasarkan 3 faktor : ukuran kanker (T), apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening (N) dan apakah telah menyebar ke tempat jauh (M). 
      Dalam sistem AJCC, stadium menggunakan angka Romawi 0 s/d IV (0-4). Secara umum, angka yang lebih rendah menunjukkan semakin kecil kemungkinan kanker telah menyebar. Angka yang lebih tinggi, seperti stadium IV menunjukkan kanker yang lebih serius. 
  • Stadium 0 (Carsinoma in Situ) : Sel-sel kanker serviks hanya ditemukan di lapisan terdalam leher rahim
  • Stadium I : kanker ditemukan pada leher rahim saja.
  • Stadium II : kanker telah menyebar di luar leher rahim tetapi tidak ke dinding panggul atau sepertiga bagian bawah vagina.
  • Stadium III : kanker serviks telah menyebar ke sepertiga bagian bawah vagina dan mungkin telah menyebar ke dinding panggul.
  • Stadium IV : kanker serviks telah menyebar ke kandung kemih, rektum, atau bagian lain dari tubuh (paru-paru, tulang, liver, dll)
                                

Pengobatan Kanker Serviks

1.    Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke dalam vagina dan pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel abnormal dengan cara membekukannya. Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker serviks yang hanya ada di dalam leher rahim (stadium 0).

2.    Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus sebagian kecil dari jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser hanya digunakan sebagai pengobatan untuk kanker serviks pra-invasif (stadium 0).

3.    Konisasi (LEEP)
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher rahim. Hal ini dilakukan dengan menggunakan pisau bedah atau laser tau menggunakan kawat tipis yang dipanaskan oleh listrik. Pendekatan ini dapat digunakan untuk menemukan atau mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau I). Setelah biopsi, jaringan berbentuk kerucut tersebut diangkat untuk diperiksa di bawah mikroskop. Jika batas tepi dari kerucut itu mengandung kanker atau pra-sel kanker, pengobatan lebih lanjut akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel kankernya telah diangkat.

4.    Histerektomi total
Pengangkatan rahim dengan cara operasi di bagian depan perut (perut) atau melalui vagina. Histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa kanker serviks stadium awal (I). Hal ini juga digunakan untuk stadium pra-kanker serviks (o), jika sel-sel kanker ditemukan pada batas tepi konisasi.

5.    Histerektomi radikal
Pengangkatan seluruh rahim, jaringan di dekatnya, bagian atas vagina yang berbatasan dengan leher rahim, dan beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah panggul. Operasi ini paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan perut dan kurang sering melalui vagina. Histerektomi radikal adalah pengobatan yang umum digunakan untuk kanker serviks stadium I.
         
 
6.    Trachelektomi
Trachelectomy radikal memungkinkan wanita dengan kanker stadium awal untuk dapat diobati dan masih dapat mempunyai anak. Metode ini melibatkan pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan meletakkannya pada jahitan berbentuk seperti kantong yang bertindak sebagai pembukaan leher rahim di dalam rahim. Kelenjar getah bening di dekatnya juga diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui vagina ataupun perut.

7.    Ekstenterasi Panggul 
Pada jenis operasi ini, kandung kemih, vagina, dubur dan sebagian usus besar juga diangkat. Operasi ini digunakan ketika kanker serviks kambuh kembali setelah pengobatan sebelumnya. Jika kandung kemih telah diangkat, sepotong usus pendek dapat digunakan untuk membuat kandung kemih baru.

8.    Radioterapi
Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk membunuh sel-sel kanker. Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi. Kadang radioterapi juga diberikan sesudah pembedahan. Akhir-akhir ini, dokter seringkali melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran sel kankernya lebih besar dari 4 cm atau bila kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya.
Radioterapi ada 2 jenis, yaitu radioterapi eksternal dan radioterapi internal. Radioterapi eksternal berarti sinar X diarahkan ke area panggul melalui sebuah mesin besar. Sedangkan radioterapi internal berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam serviks selama beberapa waktu untuk membunuh sel-sel kankernya.

9.    Brachytherapy
Brachytherapy merupakan salah satu contoh radiasi internal. Baik radium ataupun cesium dapat digunakan. Untuk mencegah komplikasi potensial dari HDR brachytherapy, maka biasanya HDR brachytherapy diberikan dalam beberapa insersi. Untuk pasien kanker serviks, standar perawatannya adalah 5 insersi. Keuntungan HDR brachytherapy adalah antara lain pasien cukup rawat jalan, ekonomis, dosis radiasi bisa disesuaikan, tidak ada kemungkinan bergesernya aplikator.

                      
10. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Biasanya obat-obatan diberikan melalui infus ke pembuluh darah atau melalui mulut. Obat tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh setelah dimasukan ke aliran darah. Namun, kemoterapi dapat menyebabkan efek samping, antara lain
  • Kehilangan nafsu makan
  • Sakit maag dan muntah
  • Kerontokan rambut jangka pendek
  • Sariawan
  • Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi
  • Pendarahan atau memar bila terjadi luka
  • Sesak napas dan merasa lelah
  • Menopause dini
  • Hilangnya kemampuan untuk hamil (infertilitas)
Powered by Blogger.